Scroll untuk baca artikel
EdukasiIndonesiaInfo PublikKementerian AgamaKomunitasTerkini

Kemenag Dorong Majelis Taklim Jadi Pilar Ketahanan Keluarga

94
×

Kemenag Dorong Majelis Taklim Jadi Pilar Ketahanan Keluarga

Sebarkan artikel ini
Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag Muchlis M. Hanafi memberikan sambutan dalam kegiatan penguatan keluarga berbasis majelis taklim di Jakarta Timur.

Jakarta — Majelis taklim didorong Kementerian Agama menjadi pusat penguatan ketahanan keluarga di tengah meningkatnya tantangan sosial, ekonomi, dan digital dalam kehidupan masyarakat modern.

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan Penguatan Keluarga Sakinah–Maslahat Berbasis Majelis Taklim di Majelis Taklim Al-Tahmid, Jakarta Timur, Kamis (21/5/2026). Kegiatan itu mengusung tema “Majelis Taklim Berdaya, Ketahanan Keluarga Terjaga” dan dihadiri jamaah, pimpinan majelis taklim, serta penyuluh agama Islam.

Menurut Muchlis, keluarga menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat dan bangsa. Ia menilai penguatan keluarga harus menjadi perhatian bersama di tengah berbagai tantangan yang memengaruhi kehidupan rumah tangga saat ini.

“Ketahanan bangsa sangat terkait dengan ketahanan keluarga. Ketika keluarga kuat, masyarakat akan kuat. Sebaliknya, ketika keluarga rapuh, berbagai persoalan sosial akan mudah muncul,” ujar Muchlis.

Ia menjelaskan keluarga modern menghadapi berbagai persoalan. Tantangan itu meliputi melemahnya komunikasi akibat penggunaan teknologi berlebihan, tekanan ekonomi, perubahan pola relasi rumah tangga, meningkatnya angka perceraian, hingga persoalan pengasuhan anak di era media sosial.

Muchlis menegaskan penguatan keluarga tidak cukup dilakukan melalui pendekatan administratif dan hukum semata. Menurutnya, penguatan nilai, moral, dan spiritualitas juga sangat diperlukan. Dalam konteks itu, majelis taklim dinilai memiliki posisi strategis karena hadir langsung di tengah masyarakat.

“Majelis taklim harus naik kelas. Tidak hanya menjadi tempat belajar agama semata, tetapi juga menjadi pusat edukasi keluarga, ruang konsultasi sosial-keagamaan, sekaligus sarana memperkuat nilai-nilai mawaddah, rahmah, dan tanggung jawab sosial dalam keluarga,” katanya.

Kementerian Agama, lanjut Muchlis, terus mendorong transformasi layanan keagamaan agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dakwah dinilai harus mampu menjawab persoalan nyata umat, termasuk masalah keluarga, pendidikan anak, kesehatan mental, etika digital, dan harmoni sosial.

“Majelis taklim harus mampu menghadirkan Islam yang menenangkan, mempersatukan, dan memberi solusi. Dakwah hari ini tidak cukup hanya normatif, tetapi juga harus kontekstual dan menyentuh kebutuhan riil masyarakat,” lanjutnya.

Ia menambahkan langkah tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar mengenai pentingnya penguatan institusi keluarga di tengah tantangan sosial modern. Menurutnya, lembaga keagamaan dan sosial kemasyarakatan harus menjadi mitra strategis dalam menjaga ketahanan keluarga Indonesia.

Kegiatan itu juga diisi sosialisasi penguatan peran majelis taklim, ceramah tematik keluarga sakinah–maslahat, dialog interaktif peserta, serta pembinaan ketahanan keluarga berbasis nilai Islam moderat dan inklusif.

“Majelis taklim yang berdaya tidak hanya menjaga tradisi pengajian, tetapi juga menjadi benteng sosial dan moral masyarakat sekaligus pilar penting dalam menjaga ketahanan keluarga di tengah perubahan zaman,” tutup Muchlis.