Scroll untuk baca artikel
AdvertorialBalikpapanHiburanIndonesiaInfo PublikKalimantan TimurTerkini

Panglima Jilah Siap Bintangi Film Kolosal Dayak, Angkat Identitas Budaya ke Layar Lebar

4781
×

Panglima Jilah Siap Bintangi Film Kolosal Dayak, Angkat Identitas Budaya ke Layar Lebar

Sebarkan artikel ini

Balikpapan — Sosok Agustinus Jila atau yang dikenal sebagai Panglima Jilah kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, ia tidak hanya tampil sebagai tokoh adat, tetapi juga akan terlibat langsung sebagai pemeran dalam film kolosal bertema Dayak yang tengah digagas.

Hal tersebut terungkap dalam pertemuan strategis bersama para ketua organisasi masyarakat Dayak se-Kalimantan Timur yang berlangsung di Balikpapan, Jumat (10/4/2026). Dalam kunjungannya, Panglima Jilah membawa dua agenda utama, yakni mempererat silaturahmi antar tokoh Dayak serta meninjau pembangunan IKN sekaligus menggalang dukungan untuk produksi film budaya berskala besar.

Film ini dirancang tidak hanya sebagai karya hiburan, tetapi juga sebagai media pelestarian budaya. Panglima Jilah bahkan akan terlibat sebagai produser eksekutif sekaligus aktor, guna memastikan cerita yang diangkat benar-benar mencerminkan identitas Dayak.

“Film Dayak ini nanti akan menceritakan cerita rakyat, kerajaan, adat, budaya, dan tradisi kita. Kita ingin semua itu dikenal luas, bukan hanya di Kalimantan, tapi juga di luar,” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya menjaga jati diri di tengah perkembangan zaman.

“Pertama, Dayak itu harus dikenal. Kedua, harus banyak promosi tentang sejarah, adat, budaya, dan tradisi Dayak. Kita tidak boleh menutup mata terhadap perkembangan zaman, tapi juga tidak boleh kehilangan jati diri,” katanya.

Menurutnya, keterlibatan langsung dalam film ini juga menjadi simbol persatuan masyarakat Dayak. Proyek tersebut akan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas Dayak dari Kalimantan Barat hingga wilayah lintas negara seperti Sarawak dan Sabah. Namun, proses produksi saat ini masih berada pada tahap awal, mencakup penyusunan konsep hingga pembahasan pendanaan.

“Ini bukan nama saya saja, bukan nama pribadi siapa pun. Ini membawa nama Dayak. Jadi kita harus hati-hati, butuh kerja sama yang baik, pemikiran besar, dan dukungan banyak pihak,” tegasnya.

Ia juga berpesan kepada generasi muda agar tidak melupakan akar budaya.

“Buat generasi muda, jangan tinggalkan identitas. Kamu boleh maju, boleh tinggal di mana pun, tapi jati dirimu jangan pernah hilang. Karena manusia tanpa adat, tanpa budaya, tanpa tradisi, seperti pohon yang terbakar,” pesannya.

Dalam agenda tersebut, Panglima Jilah turut berdiskusi dengan sejumlah tokoh adat serta meninjau perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat adat dalam pembangunan kawasan tersebut.

Kedatangannya di Balikpapan disambut oleh Abriantinus selaku Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Balikpapan sekaligus produser eksekutif, serta Thoesang TT Asang sebagai ketua tim produksi.

Abriantinus menegaskan bahwa film ini memiliki tujuan edukatif dan pelestarian sejarah, mengingat dokumentasi budaya Dayak dalam bentuk audiovisual masih sangat terbatas.

“Selama ini sejarah peradaban Dayak lebih banyak dalam bentuk sastra lisan. Secara literasi dan audiovisual masih sangat minim. Melalui film ini, kami ingin menghadirkan edukasi sekaligus melestarikan sejarah dan budaya Dayak,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa film akan mengangkat berbagai aspek kehidupan masyarakat Dayak, mulai dari adat, budaya, hingga interaksi sosial dalam konteks kebangsaan. Saat ini, proyek masih berada pada tahap audisi yang berlangsung dari 1 April hingga 1 Juni 2026, sebelum masuk ke tahap produksi.

“Kita masih tahap audisi. Setelah itu baru masuk ke jadwal shooting dan proses produksi lainnya. Target kami, dalam waktu satu tahun film ini sudah bisa diselesaikan,” katanya.

Sementara itu, Thoesang TT Asang menyebut proses seleksi akan dilakukan di berbagai kota di Kalimantan, seperti Samarinda, Tarakan, Banjarbaru, Palangkaraya, hingga Pontianak. Film ini juga akan menggabungkan unsur aksi, romantisme, hukum adat, hingga sentuhan mistis seperti legenda mandau terbang.

Dengan dukungan berbagai pihak, film kolosal Dayak ini diharapkan menjadi medium penting dalam memperkenalkan budaya dan sejarah Dayak ke tingkat nasional hingga internasional, sekaligus memperkuat identitas di tengah arus modernisasi.