Scroll untuk baca artikel
AdvertorialEdukasiIndonesiaInfo PublikKalimantan TimurPemerintahanPemprov KaltimSamarindaTerkini

Sekda Kaltim: Pemimpin Harus Mampu Menjadi Pendengar yang Baik

179
×

Sekda Kaltim: Pemimpin Harus Mampu Menjadi Pendengar yang Baik

Sebarkan artikel ini
Staf Ahli Gubernur Kaltim Farisya Yana membuka pelatihan Coaching for Leaders di Aula Besar BPSDM Kalimantan Timur, Samarinda.

Samarinda – Coaching for Leaders menjadi bekal bagi pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk memperkuat kepemimpinan yang berorientasi pada pengembangan potensi, inovasi, dan transformasi birokrasi.

Pelatihan Coaching for Leaders bagi pejabat administrator serta pejabat fungsional Widyaiswara Ahli Madya dan Ahli Utama dibuka di Aula Besar BPSDM Kalimantan Timur, Samarinda, pada 29 Juli 2026. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Bimbingan Teknis bagi Koordinator dan Operator Inovasi Daerah.

Sambutan tertulis Sekretaris Daerah Kalimantan Timur, Sri Wahyuni, dibacakan oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Farisya Yana. Dalam sambutan itu, Sekda menegaskan bahwa seorang pemimpin harus mampu mendengar, membuka ruang diskusi, membangun kepercayaan, serta membantu bawahan menemukan solusi dan mengembangkan kapasitas diri.

Usai membacakan sambutan, Farisya Yana memberikan pembekalan mengenai tiga kontinum psikologis manusia. Ia menjelaskan area minus sebagai kondisi psikologis yang tidak sehat, area netral sebagai kondisi sehat namun belum memiliki keterampilan dasar, dan area plus sebagai kondisi sehat yang telah memiliki kemampuan, tetapi masih memerlukan optimalisasi agar mencapai potensi terbaik.

“Tugas coach bukan menggurui. Ketika melakukan coaching hendaknya menjauhi kebiasaan memberikan nasehat secara langsung.”

Menurut Farisya Yana, seorang coach perlu menggunakan pendekatan inkuiri melalui pertanyaan-pertanyaan strategis. Pendekatan tersebut membantu coachee berpikir, menggali potensi, dan menemukan solusi secara mandiri.

Kepala BPSDM Kalimantan Timur, Nina Dewi, mengatakan pelatihan Coaching for Leaders diikuti 44 peserta. Sementara itu, Bimbingan Teknis Koordinator dan Operator Inovasi Daerah diikuti 77 peserta yang berasal dari seluruh perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Ia menjelaskan kedua pelatihan tersebut bertujuan memperkuat ekosistem inovasi daerah, meningkatkan kompetensi teknis aparatur, serta mendorong budaya kerja ASN yang kreatif, inovatif, dan adaptif dalam mendukung transformasi birokrasi.

Pelatihan Coaching for Leaders berlangsung selama dua hari dengan pendampingan Coach Nasional Dr. Agung Solihin beserta tim. Materi yang diberikan meliputi Culture Design Review, pentingnya coaching, teknik coaching, model coaching, hingga praktik roleplay.

Sementara itu, peserta Bimbingan Teknis Inovasi Daerah mendapatkan materi dari Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri, Pusat Pembelajaran Strategi Kebijakan Pelayanan Publik Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, Balitbangda Kalimantan Timur, dan BPSDM Kalimantan Timur. Materi mencakup indikator inovasi, penyusunan profil inovasi, pelayanan publik berbasis inovasi, penguatan ekosistem inovasi, serta konsep dasar inovasi.

Salah seorang peserta, Jauhar Efendi, mengaku pelatihan tersebut memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai peran seorang coach dibandingkan trainer, mentor, maupun konsultan.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi saya pribadi ketika menjadi Coach di berbagai pelatihan, karena bisa membedakan kapan harus bertindak sebagai trainer, mentor, konsultan dan sebagai coach.”

Peserta lainnya, Syahrial Hidayat, menilai metode coaching dapat memperkuat budaya organisasi yang berorientasi pada pelayanan, khususnya di lingkungan Rumah Sakit Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda.

“Saya semakin memahami bahwa budaya organisasi yang baik tidak terbentuk secara instan, melainkan lahir dari kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari di lingkungan kerja.”

Syahrial menambahkan perubahan organisasi membutuhkan keterlibatan seluruh anggota tim. Menurutnya, seorang pejabat administrator tidak hanya berperan sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai coach yang mampu mendengar, menggali potensi, memotivasi, dan mendorong perkembangan setiap anggota tim.

Peserta lainnya, Sugeng Chairuddin, juga mengapresiasi pelatihan tersebut. Ia menilai sesi praktik coaching memberikan pemahaman yang lebih tajam mengenai tahapan dalam proses coaching.

“Saya memperoleh manfaat yang besar, karena membuat tahapan untuk melakukan coaching menjadi lebih tajam.”