Balikpapan, — Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus mendorong penambahan ruang hijau di berbagai kawasan. Namun, penanaman pohon tidak dapat dilakukan secara seragam di setiap ruas jalan karena harus menyesuaikan kondisi dan karakteristik lokasi.
Sejumlah faktor menjadi pertimbangan DLH sebelum menentukan jenis tanaman, mulai dari kondisi median jalan, ketersediaan lahan, keberadaan drainase, hingga fasilitas trotoar di sekitar lokasi penanaman.
Kepala DLH Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, mengatakan jenis tanaman yang dipilih harus disesuaikan dengan ruang tumbuh yang tersedia. Median dengan area yang cukup luas memungkinkan ditanami pohon berukuran besar yang berfungsi sebagai peneduh. Sementara itu, lokasi dengan lahan terbatas lebih sesuai untuk tanaman penghijauan berbunga.
“Kalau medianya memungkinkan, pasti kita tanam pohon besar yang sifatnya peneduh atau pelindung. Tetapi kalau medianya tidak besar, kita tanam pohon penghijauan yang berbunga,” kata Sudirman, Kamis (1/10/2026).
Menurut Sudirman, program penghijauan tidak semata-mata bertujuan menambah jumlah vegetasi dan mengurangi paparan panas. Pemilihan serta penataan tanaman juga menjadi bagian dari upaya mempercantik kawasan perkotaan.
Salah satu jenis tanaman yang saat ini dikembangkan DLH adalah tabebuya. Tanaman tersebut memiliki bunga dengan beragam warna, di antaranya merah muda, putih, dan kuning.
Meski demikian, penanaman tabebuya tetap disesuaikan dengan kondisi lahan. Pada median yang sempit, DLH akan mempertimbangkan jenis tanaman dengan karakter batang dan pola pertumbuhan yang lebih sesuai dengan keterbatasan ruang.
Sebaliknya, kawasan dengan lahan yang lebih luas dapat menjadi lokasi pengembangan jenis tabebuya yang memiliki karakter pertumbuhan lebih besar.
“Sekarang ada dua jenis yang kita perbanyak tanam di kota, yaitu tabebuya dan pulai. Pulai juga bentuknya artistik. Pohonnya bisa besar, tetapi akarnya tidak merusak trotoar atau median jalan,” ujar Sudirman.
Selain melakukan penanaman baru, DLH juga rutin merawat pohon-pohon yang telah tumbuh di sejumlah ruas jalan. Salah satu bentuk perawatan dilakukan melalui pemangkasan berkala, terutama pada pohon peneduh berukuran besar.
Pemangkasan diperlukan untuk mengendalikan pertumbuhan pohon agar tidak mengganggu fasilitas publik maupun aktivitas pengguna jalan.
Sudirman memperkirakan terdapat sekitar 25.000 hingga 30.000 pohon besar yang berfungsi sebagai peneduh di median dan sisi jalan di wilayah Balikpapan.
Beberapa jenis pohon yang telah banyak tumbuh di sepanjang ruas jalan kota antara lain trembesi dan angsana.
Perawatan terhadap pohon-pohon tersebut dilakukan secara bertahap di sejumlah wilayah Balikpapan. Saat ini, tim pemangkasan DLH juga melakukan perawatan mulai dari kawasan Balikpapan Utara hingga wilayah timur kota, termasuk Teritip dan Manggar.
Sudirman menegaskan bahwa program penanaman tanaman baru tidak berarti seluruh median jalan akan ditanami tabebuya. Ketersediaan ruang serta keberadaan berbagai infrastruktur di bawah dan di sekitar jalan tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan titik penanaman.
Ia mencontohkan kondisi di Jalan MT Haryono. Pada beberapa bagian ruas jalan tersebut, penanaman pohon tidak dapat dilakukan karena terdapat saluran drainase yang berada di bawah median.
“Seperti di Jalan MT Haryono, tidak memungkinkan ditanami karena di bawahnya ada drainase. Tetapi ketika masih ada lokasi atau ruangnya, kita akan tanam,” katanya.
DLH memastikan kegiatan penghijauan tetap dilakukan pada titik-titik yang memungkinkan dengan tetap memperhatikan fungsi dan keberadaan infrastruktur jalan.
Melalui pola penanaman yang menyesuaikan kondisi masing-masing lokasi, penambahan vegetasi di Balikpapan diharapkan tidak hanya meningkatkan estetika kota, tetapi juga menjaga fungsi pohon sebagai peneduh sekaligus mendukung keberadaan ruang terbuka hijau.















