Scroll untuk baca artikel
BalikpapanInfo PublikKalimantan TimurTerkini

Hidran Jadi Keluhan Warga Saat Kebakaran di Gunung Sari Ulu

119
×

Hidran Jadi Keluhan Warga Saat Kebakaran di Gunung Sari Ulu

Sebarkan artikel ini

BALIKPAPAN — Kebakaran yang terjadi di RT 20 Kelurahan Gunung Sari Ulu (GSU), Kecamatan Balikpapan Tengah, Rabu (21/1/2026) dini hari, memunculkan keluhan warga terkait fungsi hidran kebakaran di kawasan Telkom. Hidran tersebut dinilai tidak bekerja maksimal sehingga api sempat membesar sebelum akhirnya berhasil dikendalikan petugas pemadam kebakaran.

Ketua RT 20 GSU, Baharuddin, mengatakan hidran yang berada di area Telkom, tidak jauh dari lokasi kejadian, baru dapat dimanfaatkan setelah proses pemadaman berlangsung cukup lama. Menurutnya, kondisi ini bukan kali pertama terjadi dan kerap menjadi keluhan warga setiap kali terjadi kebakaran di wilayah tersebut.

“Di dekat Telkom itu ada hidran, tapi saat kejadian kemarin fungsinya tidak maksimal. Airnya baru keluar setelah api sudah besar,” ujar Baharuddin.

Ia menilai keberadaan hidran di kawasan tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan sejak awal kejadian agar api tidak sempat membesar dan meluas. Atas kondisi itu, pihak RT telah menyampaikan keluhan secara langsung kepada pihak Telkom, mengingat hidran berada di area tersebut dan masih termasuk wilayah RT setempat.

Menanggapi keluhan warga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan memberikan penjelasan terkait sistem kerja hidran di kawasan permukiman. Kepala Pelaksana BPBD Kota Balikpapan, Usman Ali, menjelaskan bahwa hidran yang berada di pinggir jalan maupun lingkungan perumahan, termasuk di sekitar Telkom, umumnya terhubung langsung dengan jaringan distribusi air bersih milik PDAM.

“Untuk hidran di permukiman, itu satu jaringan dengan air warga. Ketika terjadi kebakaran dan air dibuka secara bersamaan, tekanannya bisa turun,” jelas Usman.

Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan suplai air ke hidran tidak maksimal sehingga petugas pemadam kebakaran kerap harus mencari hidran lain yang memiliki tekanan air lebih baik.

“Dalam beberapa kejadian, petugas bahkan harus bergeser sekitar setengah hingga satu kilometer untuk mendapatkan tekanan air yang cukup,” ujarnya.

Usman menegaskan bahwa hidran di kawasan permukiman pada prinsipnya tetap berfungsi dan tidak dalam kondisi rusak. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada tekanan air dari jaringan utama PDAM pada saat kejadian.

“Bukan tidak berfungsi, hidran itu tetap hidup. Hanya saja tidak maksimal karena tekanan airnya berkurang,” tegasnya.

Ia juga membedakan hidran di kawasan permukiman dengan hidran di area perkantoran, hotel, atau perusahaan tertentu yang umumnya memiliki sistem pengelolaan air tersendiri sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal saat terjadi kebakaran.

Terkait pengelolaan dan pemeliharaan hidran, Usman menyebut kewenangan tersebut berada pada PDAM sebagai penyedia layanan air bersih yang juga menjadi bagian dari sistem penanggulangan kebakaran di daerah.