Scroll untuk baca artikel
Terkini

Pengoperasian Unit RFCC RDMP Balikpapan Jadi Tonggak Peningkatan Produksi BBM Bersih

169
×

Pengoperasian Unit RFCC RDMP Balikpapan Jadi Tonggak Peningkatan Produksi BBM Bersih

Sebarkan artikel ini

Balikpapan, – Pertamina resmi memulai pengoperasian awal Unit RFCC Complex di Kilang Balikpapan bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Unit ini menjadi bagian utama dari proyek modernisasi kilang dalam program Refinery Development Master Plan (RDMP), yang bertujuan meningkatkan kualitas produksi bahan bakar berstandar Euro V serta nilai ekonomi pengolahan.

Proyek RDMP Balikpapan yang dijalankan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) bersama PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) menelan investasi sekitar USD 7,4 miliar atau setara Rp120 triliun, menjadikannya modernisasi kilang terbesar di Indonesia dan salah satu proyek energi strategis di kawasan.

Pjs Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, menegaskan pentingnya tahap operasional ini. “Pengoperasian awal Unit RFCC Complex hari ini menjadi langkah penting dalam rangkaian start-up unit utama pengolahan. Untuk kelancaran proses ini, kami melaksanakan doa bersama,” ujarnya. Acara tersebut dihadiri jajaran manajemen, komisaris, direksi, hingga pekerja kilang.

Melalui proyek ini, kapasitas pengolahan minyak mentah meningkat dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari. RDMP juga telah menyelesaikan pembangunan fasilitas tambat Single Point Mooring 320.000 DWT, dua tangki penyimpanan minyak 1 juta barel, serta unit pemurnian LPG berkapasitas 43 ribu ton per tahun.

 

Milla menambahkan dukungan pemerintah menjadikan proyek ini sebagai Proyek Strategis Nasional. “RDMP Balikpapan memperkuat swasembada energi nasional, hilirisasi industri, dan menegaskan posisi Pertamina sebagai tulang punggung transformasi energi Indonesia menuju kemandirian dan keberlanjutan,” jelasnya.

Selain meningkatkan kapasitas pengolahan, RDMP diproyeksikan menambah produksi gasoline, diesel, avtur, dan LPG berkualitas Euro V. Produksi LPG tambahan bahkan diperkirakan mencapai 336 ribu ton per tahun, mendukung transisi energi yang lebih bersih.

Secara ekonomi, proyek ini berpotensi mengurangi ketergantungan impor BBM hingga Rp68 triliun per tahun dan memberikan kontribusi signifikan bagi PDB nasional sekitar Rp514 triliun. Dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri di atas 35%, proyek ini juga menyerap lebih dari 24.000 tenaga kerja saat masa puncak konstruksi serta mendorong manfaat sosial lewat pembangunan infrastruktur dan program pemberdayaan masyarakat.

KPI memastikan operasional kilang sejalan dengan prinsip ESG (Environment, Social & Governance), serta telah bergabung dalam United Nations Global Compact. Perusahaan menegaskan komitmennya untuk menjadi pelaku industri kilang dan petrokimia berkelas dunia dengan standar tata kelola yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan.