Scroll untuk baca artikel
AdvertorialBalikpapanIndonesiaInfo PublikKalimantan TimurPolda kaltimTerkini

Pola Kecelakaan Lalu Lintas di Kaltim Berubah, Sepeda Motor Masih Dominan

116
×

Pola Kecelakaan Lalu Lintas di Kaltim Berubah, Sepeda Motor Masih Dominan

Sebarkan artikel ini

Balikpapan — Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Kalimantan Timur mengungkap gambaran “anatomi” kecelakaan lalu lintas selama pelaksanaan Operasi Ketupat Mahakam 2026. Evaluasi tersebut menunjukkan keterkaitan antara jenis kendaraan, profil pelaku, hingga waktu dan lokasi kejadian dalam membentuk pola kecelakaan.

Dirlantas Polda Kaltim Kombes Pol Yanuari Insan melalui KBO Ditlantas Polda Kaltim, Feby Febriana, menyampaikan bahwa kendaraan roda dua masih menjadi penyumbang terbesar dalam kecelakaan.

“Sepeda motor masih mendominasi dengan 33 kejadian pada 2026, naik dari 22 kejadian di tahun 2025 atau meningkat 50 persen,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Selain sepeda motor, peningkatan juga terjadi pada kendaraan roda empat. Mobil penumpang tercatat naik dari 5 menjadi 13 kejadian atau meningkat 160 persen, sementara mobil barang meningkat dari 4 menjadi 8 kejadian. Hal ini menunjukkan bahwa risiko kecelakaan kini tidak hanya terpusat pada satu jenis kendaraan.

Dari sisi pola tabrakan, jenis tabrakan depan-depan menjadi yang paling sering terjadi dengan 10 kejadian, disusul depan-belakang sebanyak 5 kejadian. Namun, peningkatan paling signifikan terjadi pada tabrakan depan-samping yang melonjak dari 2 menjadi 7 kejadian atau meningkat 250 persen.

“Data ini menunjukkan adanya perubahan pola kecelakaan yang perlu menjadi perhatian dalam penanganan lalu lintas,” kata Feby.

Dilihat dari aspek kelengkapan berkendara, pelaku kecelakaan didominasi pemegang SIM A yang meningkat dari 4 menjadi 9 kasus. Selain itu, terdapat 12 kasus pengendara tanpa SIM, sedangkan pemegang SIM C meningkat dari 1 menjadi 4 kasus.

Berdasarkan usia, kelompok usia produktif menjadi penyumbang terbesar. Usia 41–45 tahun meningkat dari 3 menjadi 6 kasus, usia 46–50 tahun dari 1 menjadi 4 kasus, serta kelompok usia di atas 60 tahun yang sebelumnya tidak tercatat kini mencapai 2 kejadian.

Dari sisi pekerjaan, karyawan atau pekerja swasta mendominasi dengan peningkatan dari 8 menjadi 16 kasus. Hal ini mencerminkan tingginya mobilitas kelompok pekerja sebagai salah satu faktor risiko kecelakaan.

Sementara itu, dari segi lokasi, kawasan permukiman menjadi titik paling rawan dengan 28 kejadian, meningkat dari 13 kasus pada tahun sebelumnya. Kecelakaan di jalan nasional juga naik dari 6 menjadi 15 kejadian, serta di jalan kabupaten/kota dari 7 menjadi 12 kejadian.

Dari waktu kejadian, kecelakaan paling banyak terjadi pada pukul 15.00 hingga 18.00 Wita dengan 9 kejadian, diikuti pukul 12.00 hingga 15.00 Wita sebanyak 7 kejadian.

“Ini menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat yang tinggi pada jam tersebut berpengaruh terhadap meningkatnya risiko kecelakaan,” ujar Feby.

Ia menegaskan bahwa pemetaan anatomi kecelakaan ini akan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan yang lebih terarah, baik melalui pendekatan preemtif maupun preventif.

“Kami akan fokus pada penanganan berbasis data ini, agar upaya penanggulangan kecelakaan bisa lebih tepat sasaran,” tutup Feby.