Scroll untuk baca artikel
BalikpapanDaerahInfo PublikKalimantan TimurPemkot BalikpapanTerkini

Transformasi Ideologi Eks Jamaah Islamiyah di Kaltim, Perkuat Moderasi dan Komitmen Kebangsaan

174
×

Transformasi Ideologi Eks Jamaah Islamiyah di Kaltim, Perkuat Moderasi dan Komitmen Kebangsaan

Sebarkan artikel ini

Balikpapan — Puluhan mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) dari berbagai wilayah di Kalimantan Timur mengikuti kegiatan bertajuk “Transformasi Ideologi: Jalan Menuju Wasathiyah Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat yang Moderat”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror Polri di Hotel Grand Tulip, Balikpapan, Minggu (21/12/2025).

Kegiatan tersebut bertujuan mendorong proses reintegrasi eks anggota Jamaah Islamiyah agar dapat kembali diterima di tengah masyarakat. Melalui program ini, diharapkan pemerintah daerah turut mendukung upaya pembinaan dan pendampingan, sehingga para eks anggota JI mampu berperan secara positif bagi daerah maupun negara.

Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan untuk membangun kesadaran ideologi baru yang lebih moderat dan nasionalis, sekaligus mengajak para peserta meninggalkan paham ekstremisme serta kembali meneguhkan kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hadir dalam kegiatan ini Kasatgaswil Kalimantan Timur Densus 88 Anti-Teror Polri Kombes Pol Dasuki Herlambang, Wakil Ketua MUI Kalimantan Timur Bidang Ukhuwah Islamiyah Azhar Qowim, serta Kepala Badan Kesbangpol Kota Balikpapan, Sutadi.

Acara ini juga menghadirkan Ustad Para Wijayanto, mantan Amir Jamaah Islamiyah, sebagai narasumber. Ia memberikan pandangan tentang pentingnya menolak sikap ekstrem dan kembali kepada ajaran Islam yang moderat atau wasathiyah.

Transformasi Ideologi Menuju Sikap Moderat

Ustad Para Wijayanto menegaskan bahwa transformasi ideologi dari ekstremisme menuju moderasi merupakan proses penting yang harus dijalani oleh para mantan anggota JI. Ia menjelaskan bahwa pasca-pembubaran Jamaah Islamiyah pada 30 Juni 2024, seluruh eks anggotanya perlu berpegang pada prinsip Islam yang seimbang dan menjauhi sikap berlebihan atau taṭarruf.

“Kami harus berpegang pada ajaran yang seimbang, tidak berlebihan atau mengurangi ajaran Islam, dan harus menghindari sikap ifrat atau tafrith,” ujar Para Wijayanto.

Menurutnya, perubahan ideologi tidak dapat terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan pemahaman mendalam serta pembelajaran dari ulama yang kredibel.

“Kita harus bisa kembali kepada prinsip Islam yang mengutamakan kesederhanaan dan keseimbangan, serta menjaga persatuan dalam bingkai NKRI,” tegasnya.

Kondisi Kaltim Pasca-Pembubaran JI

Kasatgaswil Kaltim Densus 88 AT Polri Kombes Pol Dasuki Herlambang menyampaikan bahwa situasi keamanan dan stabilitas masyarakat di Kalimantan Timur menunjukkan perkembangan positif pasca-pembubaran Jamaah Islamiyah.

“Alhamdulillah, sudah satu tahun sejak pembubaran JI, dan kami melihat perkembangan yang positif. Tidak ada lagi aksi kekerasan atau radikalisasi, dan mantan anggota JI mulai berintegrasi dengan masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan sikap dalam kehidupan bermasyarakat agar tidak memicu kesalahpahaman maupun ketegangan sosial.

“Setiap kata yang kita ucapkan harus dipilih dengan bijaksana, karena lisan adalah cerminan dari hati. Kita harus menjaga komunikasi yang baik agar tidak menyinggung perasaan orang lain,” ujar Dasuki, seraya menekankan pentingnya menjaga suasana dan energi positif dalam interaksi sosial.

Penguatan Moderasi dan Kebhinekaan

Kepala Badan Kesbangpol Kota Balikpapan, Sutadi, yang mewakili Wali Kota Balikpapan, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Densus 88 dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan ini sangat penting dalam memperkuat nilai-nilai moderasi, terutama di Balikpapan yang dikenal sebagai kota dengan tingkat keberagaman tinggi.

“Kami mendukung penuh upaya ini karena dapat memperkuat nilai-nilai toleransi dan persatuan dalam masyarakat. Kota Balikpapan memiliki lebih dari 140 paguyuban dan sekitar 300 organisasi kemasyarakatan. Keberagaman ini merupakan potensi besar yang harus dikelola dengan bijak agar tidak menjadi sumber konflik,” ujar Sutadi.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ideologi di tengah derasnya arus informasi media sosial, agar nilai-nilai moderasi dan kebangsaan dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Kegiatan seperti ini sangat strategis untuk menguatkan komitmen kebangsaan dalam bingkai Pancasila dan NKRI,” tambahnya.

Komitmen Menuju Indonesia yang Lebih Damai

Para peserta kegiatan menyatakan komitmennya untuk terus belajar, memperbaiki diri, serta memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.

“Kami berharap dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan bagi Indonesia. Kami ingin terus memperbaiki diri, berpikir dan bertindak sesuai dengan ajaran Islam yang moderat,” ungkap salah satu peserta.

Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai moderasi dan kebangsaan, diharapkan kegiatan serupa dapat terus berlanjut sebagai upaya bersama dalam mewujudkan Indonesia yang aman, damai, dan sejahtera.