Scroll untuk baca artikel
AdvertorialBalikpapanInfo PublikKalimantan TimurTerkini

Ribuan Warga Padati BSCC Dome, Wayang Kulit “Semar Mbangun Kayangan” Jadi Ruang Silaturahmi dan Refleksi

148
×

Ribuan Warga Padati BSCC Dome, Wayang Kulit “Semar Mbangun Kayangan” Jadi Ruang Silaturahmi dan Refleksi

Sebarkan artikel ini

Balikpapan — Suasana berbeda terasa di halaman BSCC Dome pada Jumat (13/2/2026) malam. Sejak selepas salat Isya hingga Sabtu (14/2/2026) dini hari, ribuan warga memadati lokasi untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit bertajuk “Semar Mbangun Kayangan” yang diselenggarakan oleh Polda Kalimantan Timur.

Alunan gamelan dan suara sinden mengisi malam, berpadu dengan tepuk tangan meriah penonton. Warga yang hadir tak hanya berasal dari Balikpapan, tetapi juga dari Penajam Paser Utara, Paser, Samarinda, Kutai Kartanegara, Bontang, hingga Kutai Timur.

Sebagian penonton duduk bersila bersama keluarga, menikmati pertunjukan semalam suntuk yang memadukan hiburan, tradisi, sekaligus pesan moral.

Di balik kelir, Ki Dalang Bayu Aji tampil memukau. Putra maestro pedalangan Ki Anom Suroto itu membawakan lakon dengan gaya komunikatif dan selingan humor yang mengundang tawa penonton. Dialog antar tokoh sarat dengan nasihat tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, dan pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan.

Suasana semakin semarak dengan kehadiran sejumlah bintang tamu seperti Gareng Semarang, Ciblek Banyumas, Niken Salindri, serta Bagong dan para sinden muda. Sorotan lampu panggung berpadu dengan warna-warni busana tradisional yang dikenakan para pengisi acara.

Kapolda Kalimantan Timur Endar Priantoro secara simbolis menyerahkan wayang tokoh Semar kepada Ki Dalang Bayu Aji sebagai tanda dimulainya pertunjukan. Endar, yang berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah, tampil mengenakan busana adat Jawa bersama para tamu undangan.

Turut hadir dalam acara tersebut Wakapolda Kaltim Brigjen Pol Josi Kusumo, Adji Muhammad Arifin, Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji, Kasdam VI/Mulawarman Brigjen TNI Andy Setyawan, serta Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud.

Dalam sambutannya, Endar menegaskan bahwa kegiatan budaya seperti ini menjadi sarana mempererat hubungan antara aparat dan masyarakat.

“Wayang kulit bukan sekadar tontonan, tetapi sarat tuntunan. Melalui budaya, kita bisa menyampaikan pesan tentang kebersamaan, kepemimpinan yang bijak, dan pentingnya menjaga persatuan,” ujar Endar.

Ia juga menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Kami ingin menghadirkan ruang yang hangat dan inklusif. Ketika masyarakat merasa dekat dan saling menghargai, harmoni sosial akan lebih mudah terjaga,” katanya.

Antusiasme warga tetap tinggi meski malam semakin larut. Panitia turut menggelar undian berhadiah di sela pertunjukan, mulai dari lima unit sepeda motor, telepon seluler, televisi, hingga berbagai perangkat elektronik lainnya.

Puncaknya, empat tiket umrah menjadi hadiah utama yang paling dinantikan. Sorak sorai menggema saat nama para pemenang diumumkan, disambut tepuk tangan dan ucapan selamat dari warga yang bertahan hingga menjelang fajar.

Lakon “Semar Mbangun Kayangan” sendiri mengisahkan upaya Semar memulihkan kahyangan yang kacau akibat keserakahan dan ego para dewa. Dengan kebijaksanaan dan pendekatan moral, Semar mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kerendahan hati hanya akan membawa kehancuran.

Pesan tersebut terasa relevan dengan kehidupan sosial saat ini. Di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Timur, pagelaran wayang kulit ini menjadi ruang refleksi bersama bahwa keharmonisan hanya dapat terwujud jika nilai moral, persatuan, dan saling menghormati terus dijaga oleh semua pihak.