Scroll untuk baca artikel
BalikpapanIndonesiaKalimantan TimurPemerintah Kota BalikpapanPemerintahanPemkot BalikpapanTerkini

Balikpapan Masuk Program Pengolahan Sampah Jadi Energi

135
×

Balikpapan Masuk Program Pengolahan Sampah Jadi Energi

Sebarkan artikel ini
Kepala DLH Balikpapan Sudirman Djayaleksana memberi keterangan terkait program pengolahan sampah menjadi energi listrik

Balikpapan — Balikpapan resmi masuk dalam program pengolahan sampah menjadi energi listrik sebagai solusi jangka panjang untuk permasalahan lingkungan perkotaan, dengan target mengurangi ketergantungan terhadap TPA konvensional.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, menjelaskan Balikpapan termasuk satu dari 33 kota yang berpeluang mengikuti program nasional tersebut.

“Dalam kebijakan terbaru, Balikpapan masuk sebagai salah satu kota yang memungkinkan untuk pengolahan sampah menjadi energi listrik. Ini sudah dibahas dalam rapat terbatas dan juga ditindaklanjuti dengan penandatanganan kerja sama bersama Kementerian Lingkungan Hidup,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Proyek pengolahan sampah mencakup kawasan Samarinda Raya dan Balikpapan Raya, termasuk daerah penyangga seperti Kutai Kartanegara dan wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Konsep aglomerasi memungkinkan Samboja dan Muara Jawa bergabung dalam sistem pengelolaan.

“Produksi sampah Balikpapan saat ini sekitar 550 ton per hari, sehingga dengan aturan baru ini kita sudah memenuhi syarat,” kata Sudirman. Untuk memenuhi bahan baku energi, metode landfill mining juga dipertimbangkan, yakni penggalian kembali sampah lama di TPA.

“Kalau ditambah dengan landfill mining, kita bisa menutup kekurangan kebutuhan bahan baku. Jadi tidak hanya mengandalkan sampah harian, tetapi juga sampah lama yang sudah tertimbun,” ujarnya.

Sudirman menegaskan proyek ini akan mengurangi kebutuhan lahan TPA baru, karena sampah akan diolah menjadi energi, menyisakan residu abu (fly ash dan bottom ash) yang bisa dimanfaatkan kembali.

“Harapannya nanti tidak perlu lagi mencari lahan TPA baru. Sampah bisa habis di satu lokasi dengan sistem yang berkelanjutan,” tambahnya.

Keberhasilan program bergantung pada partisipasi masyarakat. “Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama,” ujar Sudirman.

Proyek saat ini masih dalam tahap kerja sama dan kajian teknis, dengan harapan pembangunan dapat dimulai tahun depan.

“Kalau prosesnya cepat, mudah-mudahan tahun depan sudah mulai pembangunan,” tutur Sudirman.