Balikpapan — Peringatan ANZAC Day 2026 di Balikpapan berlangsung khidmat melalui upacara Dawn Service di Pasir Ridge, menegaskan kembali nilai sejarah, pengorbanan, dan hubungan erat Indonesia–Australia.
PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) bersama Kedutaan Besar Australia di Indonesia memfasilitasi pelaksanaan upacara pada 25 April 2026. Kegiatan ini dihadiri langsung Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, serta perwakilan pemerintah daerah, TNI, SKK Migas, dan sejumlah instansi terkait.
ANZAC Day yang diperingati setiap 25 April merupakan hari nasional di Australia dan Selandia Baru untuk mengenang pasukan Australian and New Zealand Army Corps (ANZAC) yang mendarat di Gallipoli, Turki, pada 1915 saat Perang Dunia I. Peringatan ini kemudian berkembang menjadi momentum penghormatan bagi seluruh prajurit yang gugur dalam berbagai operasi militer.
Di Balikpapan, nilai historis ANZAC Day semakin kuat karena terkait Operasi Oboe Two pada Juli 1945. Dalam operasi tersebut, sebanyak 229 prajurit Australia gugur dalam upaya merebut Balikpapan dari pendudukan Jepang, sekaligus mengamankan infrastruktur strategis termasuk lapangan terbang yang kini menjadi Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan.
“PHKT berkomitmen untuk terus mendukung sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, sekaligus melestarikan kawasan bersejarah di Balikpapan, khususnya pada momentum peringatan ANZAC Day ini,” ujar Darmapala.
“ANZAC Day bukan hanya tentang mengenang mereka yang telah gugur, tetapi juga tentang nilai-nilai yang mereka perjuangkan keberanian, ketahanan, persahabatan, dan pengorbanan yang hingga kini terus menghubungkan masyarakat Australia dan Indonesia,” ungkap Rod Brazier.
Upacara yang digelar saat fajar tersebut berlangsung di kawasan bersejarah Kompleks Pasir Ridge dengan latar Monumen Tank Matilda, simbol keberhasilan pasukan sekutu merebut pertahanan Jepang pada 1945. Prosesi diakhiri dengan penghormatan dan peletakan karangan bunga sebagai bentuk refleksi atas jasa para prajurit.
Peringatan ini sekaligus menguatkan pesan bahwa kebebasan dan perdamaian merupakan hasil pengorbanan masa lalu, yang terus dikenang melalui ungkapan “Lest We Forget”.















