Scroll untuk baca artikel
AdvertorialBerauEdukasiIndonesiaInfo PublikKalimantan TimurPemerintahanSosial BudayaTerkini

Disbudpar Berau Proyeksikan Tenun Berau Jadi Atraksi Wisata Budaya

108
×

Disbudpar Berau Proyeksikan Tenun Berau Jadi Atraksi Wisata Budaya

Sebarkan artikel ini
Peserta pelatihan mengoperasikan alat tenun tradisional dalam program pengembangan Tenun Berau di Kabupaten Berau.

Tanjung Redeb — Tenun Berau diproyeksikan menjadi atraksi wisata budaya berbasis pengalaman. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau mendorong wisatawan tidak hanya membeli wastra, tetapi juga mempelajari proses menenun secara langsung.

Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, mengatakan pengembangan tenun daerah harus diarahkan sebagai produk wisata berbasis pengalaman atau experience tourism. Melalui konsep tersebut, wisatawan dapat mengenal filosofi motif sekaligus merasakan proses pembuatan kain tenun khas Berau.

“Ke depan tenun Berau bisa dikemas dalam paket wisata wastra. Wisatawan tidak hanya membeli hasil tenun, tetapi juga mengikuti kelas menenun sehingga mendapatkan pengalaman yang berbeda saat berkunjung ke Berau.”

Samsiah menilai langkah tersebut mampu memberikan nilai tambah bagi pelaku ekonomi kreatif. Kebijakan itu juga memperkuat posisi tenun sebagai identitas budaya Kabupaten Berau. Menurutnya, perkembangan motif tenun yang mencerminkan kekayaan budaya lokal menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing wastra daerah.

Ia mengapresiasi para penenun yang terus berinovasi menghadirkan motif khas Berau. Konsistensi itu dinilai menjadi kekuatan untuk memperluas pengenalan tenun Berau kepada masyarakat dan wisatawan.

“Tenun Berau sekarang sudah memiliki ciri khas tersendiri. Ini menjadi kekuatan yang harus terus dijaga dan dikembangkan bersama.”

Selain mendukung sektor pariwisata, Disbudpar juga memandang tenun sebagai sarana edukasi budaya. Karena itu, proses menenun perlu dikenalkan kepada pelajar dan generasi muda melalui kelas pembelajaran maupun praktik secara langsung.

Samsiah menegaskan regenerasi menjadi tantangan yang harus segera diantisipasi. Menurutnya, pelestarian tradisi menenun bergantung pada keterlibatan generasi muda sebagai penerus.

“Jangan sampai para penenun yang sekarang semakin senior, tetapi tidak ada penerusnya. Harus ada ruang belajar yang melibatkan anak-anak dan generasi muda agar tradisi ini tetap hidup.”

Disbudpar Berau juga menyatakan kesiapan memperkuat kolaborasi dengan Dekranasda, Diskoperindag, komunitas, serta pelaku usaha kreatif. Sinergi tersebut diarahkan untuk memperluas promosi tenun Berau melalui berbagai kegiatan budaya dan event pariwisata.

Sementara itu, penenun Berau, Sonya Da Silva, mengatakan pengembangan tenun khas Berau melalui proses yang panjang. Saat awal dirintis, Berau belum memiliki tenun yang benar-benar menjadi identitas daerah. Pengembangan kemudian dilakukan untuk menghadirkan wastra yang merepresentasikan kekayaan budaya lokal.

“Harapan kami bukan hanya menghasilkan produk tenun, tetapi juga melahirkan generasi baru yang mampu meneruskan tradisi menenun di Berau.”