Scroll untuk baca artikel
AdvertorialBalikpapanIndonesiaInfo PublikKalimantan TimurPemerintahanPemkot BalikpapanTerkini

Pemkot Balikpapan Upayakan Rehabilitasi Sawah di Tengah Keterbatasan Lahan Pertanian

140
×

Pemkot Balikpapan Upayakan Rehabilitasi Sawah di Tengah Keterbatasan Lahan Pertanian

Sebarkan artikel ini

Balikpapan — Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) terus berupaya memperkuat sektor pertanian meskipun dihadapkan pada keterbatasan lahan produksi. Saat ini, luas sawah yang siap ditanami di Balikpapan tercatat sekitar 40 hektare dari total kawasan pertanian yang tersedia.

Kepala DKP3 Balikpapan, Sri Wahyuningsih, mengatakan para petani di kota tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Balikpapan Timur, Balikpapan Utara, Balikpapan Barat, Balikpapan Selatan, hingga Balikpapan Tengah. Namun, luas lahan pertanian yang terbatas membuat produksi pangan lokal belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Petani di Balikpapan tersebar di beberapa wilayah. Tapi lahan sawah kita memang terbatas,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).

Sri menjelaskan bahwa total lahan yang termasuk dalam Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) di Balikpapan mencapai sekitar 98 hektare. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 40 hektare yang telah siap ditanami karena memiliki pematang sawah serta infrastruktur dasar.

Sementara itu, sekitar 58 hektare lainnya masih berupa lahan dengan vegetasi lebat sehingga belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pertanian.

“Yang sudah siap ditanami sekitar 40 hektare. Sisanya sekitar 58 hektare masih berupa vegetasi berat, sehingga perlu dilakukan penataan secara bertahap,” ujar Sri.

Untuk meningkatkan kapasitas produksi, Pemerintah Kota Balikpapan berencana melakukan rehabilitasi terhadap lahan sawah yang sudah ada. Sri menjelaskan bahwa program tersebut berbeda dengan upaya pencetakan sawah baru.

“Kalau cetak sawah itu dari lahan yang sebelumnya bukan sawah menjadi sawah. Sementara yang kita rencanakan lebih ke rehabilitasi lahan yang sudah ada,” kata Sri.

Keterbatasan lahan pertanian membuat Balikpapan masih sangat bergantung pada pasokan pangan dari daerah lain. Sri menyebutkan sekitar 90 persen kebutuhan pangan masyarakat dipenuhi dari luar daerah, bahkan untuk komoditas beras hampir sepenuhnya berasal dari wilayah lain.

“Kalau beras, ketergantungan kita bisa dibilang hampir 100 persen dari daerah lain,” ujarnya.

Selama ini, produksi padi dari lahan sawah yang ada umumnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan petani sendiri. Sebagian hasil panen juga dijual ke Perum Bulog untuk mendukung cadangan pangan pemerintah.

Sri menambahkan Bulog saat ini memberikan jaminan harga gabah sekitar Rp6.500 per kilogram, yang dinilai membantu petani menjaga stabilitas harga hasil panen.

“Petani biasanya senang kalau gabahnya dibeli Bulog karena ada kepastian harga,” kata Sri.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Pemkot Balikpapan tetap berupaya menjaga keberlanjutan sektor pertanian melalui pendampingan kelompok tani, peningkatan kapasitas petani, serta optimalisasi pemanfaatan lahan yang tersedia. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tingginya ketergantungan terhadap pasokan dari luar wilayah.