Samarinda, ceritapublik.com – Kesiapan tenaga pendidik menjadi salah satu faktor utama dalam menyukseskan penerapan kurikulum baru yang mulai mengarah pada pembelajaran berbasis teknologi, termasuk coding dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Perubahan paradigma pendidikan tersebut dinilai harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi guru agar proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, mengatakan transformasi pendidikan merupakan sebuah keniscayaan seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat. Namun, menurutnya, penerapan kurikulum yang mengintegrasikan teknologi digital dan AI tidak hanya berfokus pada kesiapan peserta didik, tetapi juga harus memastikan tenaga pendidik memiliki kemampuan yang memadai. “Perubahan pendekatan pembelajaran yang mulai mengadopsi teknologi seperti coding dan Artificial Intelligence tentu menuntut kompetensi baru dari para guru. Ini menjadi tantangan yang harus dipersiapkan bersama agar implementasi kurikulum dapat berjalan efektif,” ujarnya.
Novan menjelaskan, saat ini masih terdapat tenaga pendidik yang belum memiliki latar belakang pendidikan maupun pelatihan khusus di bidang teknologi informasi, terlebih dalam pemanfaatan AI sebagai bagian dari proses belajar mengajar. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi perhatian serius karena keberhasilan kurikulum baru sangat bergantung pada kemampuan guru dalam menerjemahkan materi pembelajaran di kelas.
“Faktanya, tidak semua guru memiliki pengalaman atau pelatihan yang memadai mengenai coding maupun AI. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia harus menjadi prioritas sebelum kurikulum diterapkan secara menyeluruh,” katanya.
Ia menilai pemerintah daerah melalui dinas terkait perlu menyusun langkah strategis untuk mendukung kesiapan tenaga pendidik, mulai dari penyelenggaraan pelatihan, workshop, pendampingan teknis, hingga program peningkatan kompetensi yang berkelanjutan. Menurutnya, pelatihan tidak cukup dilakukan sekali, melainkan harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang terus berubah.
“Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Jika mereka tidak diberikan bekal yang cukup, maka akan sulit bagi sekolah untuk mengikuti perubahan yang begitu cepat. Oleh karena itu, pelatihan harus dilakukan secara berkesinambungan agar kemampuan guru terus berkembang,” ungkapnya.
Selain peningkatan kompetensi guru, Novan juga menekankan pentingnya kesiapan sarana dan prasarana pendukung di sekolah. Menurutnya, pembelajaran berbasis teknologi membutuhkan perangkat digital, akses internet yang memadai, serta ekosistem pendidikan yang mendukung proses pembelajaran digital.
“Kesiapan infrastruktur juga harus menjadi perhatian. Jangan sampai kurikulumnya sudah berubah, tetapi fasilitas pendukung di sekolah belum siap. Pemerataan akses teknologi menjadi bagian penting agar seluruh peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang sama,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan seharusnya dipandang sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan menggantikan peran guru. Kehadiran teknologi, menurut Novan, justru dapat membantu pendidik dalam menyusun materi, melakukan evaluasi pembelajaran, hingga mengembangkan metode belajar yang lebih interaktif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Artificial Intelligence harus dimanfaatkan secara bijak sebagai pendukung proses pembelajaran. Peran guru tetap menjadi yang utama karena pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, etika, dan nilai-nilai kehidupan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi,” tegasnya.
Komisi IV DPRD Kota Samarinda, lanjut Novan, akan terus memberikan perhatian terhadap sektor pendidikan, termasuk mengawal kebijakan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan sekolah. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan diperlukan agar transformasi pendidikan dapat berjalan secara maksimal.
“Kami berharap seluruh pihak dapat bersinergi dalam mempersiapkan dunia pendidikan menghadapi era digital. Dengan guru yang kompeten, didukung sarana yang memadai serta kebijakan yang tepat, penerapan kurikulum baru dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Samarinda,” pungkasnya.















