Balikpapan — Dinas Kesehatan Kota Balikpapan mencatat peningkatan jumlah kasus suspek Campak yang mencapai sekitar 200 orang dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan serta mempercepat pelaksanaan imunisasi, terutama bagi anak-anak yang belum mendapatkan vaksin lengkap.
Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan, Dra. Alwiati, menyampaikan bahwa mayoritas kasus yang tercatat masih berstatus suspek dan belum seluruhnya terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Meski demikian, langkah pencegahan tetap dilakukan secara optimal guna menghindari potensi penyebaran yang lebih luas.
“Walaupun jumlahnya cukup tinggi, Balikpapan belum masuk kategori daerah endemis. Karena itu, kita belum memerlukan langkah outbreak response immunization dari pemerintah pusat. Namun, kewaspadaan tetap kami tingkatkan,” ujar Alwiati, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa campak merupakan penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. Orang yang telah divaksin masih berpeluang terinfeksi, tetapi umumnya hanya mengalami gejala ringan dibandingkan mereka yang belum mendapatkan vaksin.
Menurut Alwiati, kelompok paling rentan adalah anak-anak yang belum memperoleh imunisasi dasar lengkap. Oleh karena itu, Dinkes saat ini mengintensifkan program imunisasi kejar agar seluruh anak mendapatkan perlindungan yang memadai.
“Kami fokus mengejar anak-anak yang belum imunisasi. Ini penting untuk membentuk kekebalan kelompok agar penularan bisa ditekan,” katanya.
Selain memperkuat vaksinasi, Dinkes juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat terkait perilaku hidup bersih dan sehat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kebiasaan orang dewasa yang berinteraksi dengan bayi tanpa menjaga kebersihan, seperti langsung menyentuh atau mencium tanpa mencuci tangan.
“Sering kali orang dewasa menjenguk bayi, langsung menyentuh atau mencium tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Padahal virus bisa saja terbawa. Ini yang kami ingatkan kepada masyarakat,” ucapnya.
Dinkes turut mengimbau masyarakat yang mengalami gejala campak, seperti demam dan ruam, agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Pasien yang terpapar disarankan menjalani isolasi mandiri selama kurang lebih dua minggu untuk mencegah penularan.
“Pasien harus membatasi kontak dengan orang lain. Ini langkah penting agar tidak terjadi penularan lanjutan di keluarga maupun masyarakat,” kata Alwiati.
Sebagai bagian dari upaya pengendalian, Dinkes Balikpapan telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan yang ditujukan kepada seluruh fasilitas kesehatan dan masyarakat. Melalui kerja sama antara pemerintah dan warga, penyebaran campak diharapkan dapat segera ditekan dan tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa.















