Tanjung Pinang — Keberhasilan pengapalan topside Proyek Manpatu menandai kemajuan signifikan dalam upaya menjaga keberlanjutan produksi migas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.
PT Pertamina Hulu Mahakam melaksanakan seremoni load out dan sail away topside pada 17 April 2026 di fasilitas fabrikasi PT Meindo Elang Indah, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Tahapan ini menjadi lanjutan dari sail away jacket yang telah dilakukan sebelumnya pada 8 April 2026, sekaligus menegaskan kesiapan proyek memasuki fase instalasi di wilayah operasi lepas pantai Balikpapan.
Topside dengan berat sekitar 1.000 ton tersebut diangkut menggunakan kapal tongkang dan akan menempuh perjalanan sekitar 1.930 kilometer dengan estimasi waktu 15 hari. Struktur ini merupakan bagian vital dari anjungan migas lepas pantai yang berfungsi sebagai pusat pemrosesan, pengeboran, sistem kontrol, utilitas, serta fasilitas akomodasi pekerja. Proyek ini dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 80 juta standar kaki kubik per hari untuk mendukung peningkatan produksi gas dan kondensat.
Seremoni dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji, perwakilan SKK Migas, Ditjen Migas, serta manajemen PHM dan pemerintah daerah. Kolaborasi lintas pihak dinilai menjadi faktor penting dalam kelancaran proyek strategis ini.
“Di saat banyak pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh beberapa perusahaan Kalimantan Timur, PHM memberikan kontribusi yang sangat berarti untuk penyerapan tenaga kerja terampil dari Kalimantan Timur melalui kontraktor PT Meindo Elang Indah yang mengerjakan Proyek Manpatu,” tutur Seno.
General Manager PHM Setyo Sapto Edi menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja kolektif berbagai pihak yang terlibat dalam proyek.
“Penyelesaian tahap fabrikasi Topside ini merupakan wujud kerja keras dan hasil kolaborasi yang solid seluruh tim yang didukung oleh berbagai pemangku kepentingan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa proyek ini menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional di tengah tantangan lapangan migas yang semakin matang.
“Proyek Pengembangan Manpatu adalah bagian dari kontribusi nyata kita terhadap ketahanan energi nasional. Di tengah tantangan lapangan-lapangan produksi yang semakin mature, kita dituntut untuk terus berinovasi, bergerak cepat, dan tetap menjaga keunggulan operasional,” tegasnya.
Direktur Utama Pertamina Hulu Indonesia, Sunaryanto, menambahkan bahwa proyek ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga keberlanjutan energi nasional.
“Proyek Pengembangan Manpatu ini bukan hanya tentang menambah produksi, tetapi merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan energi dan memperkuat ketahanan energi nasional secara berkelanjutan khususnya dari wilayah Kalimantan. Keberhasilan di proyek ini membuktikan bahwa kita mampu menghadapi tantangan industri melalui kolaborasi, inovasi, dan komitmen yang kuat,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan pentingnya aspek keselamatan kerja dalam setiap tahapan proyek.
“Dengan capaian lebih dari dua juta jam kerja tanpa Kehilangan Jam Kerja Karena Kecelakaan atau Lost Time Incident (LTI) hingga Maret 2026, PHI melalui anak perusahaannya PHM berkomitmen untuk menjaga standar Health, Safety, Security, and Environment atau HSSE secara konsisten hingga seluruh rangkaian proyek selesai,” tegasnya.
Proyek Manpatu merupakan proyek fast track yang berawal dari penemuan sumur eksplorasi Manpatu-1X pada 2022 dan dilanjutkan dengan tahap FEED pada 2023–2024. Proyek ini mencakup pembangunan anjungan baru, pemasangan pipa bawah laut sepanjang 2,5 kilometer, serta pengeboran 11 sumur pengembangan dengan target onstream pada kuartal I 2027 dan pengeboran perdana pada kuartal IV 2026.
Keberhasilan tahap ini menunjukkan kesiapan industri hulu migas nasional dalam menjalankan proyek kompleks secara aman, efisien, dan terintegrasi guna menopang kebutuhan energi masa depan Indonesia.















